Senin, 19 Mei 2008

Kiat-Kiat "Triple-5" Berbisnis untuk Pensiunan

PENSIUN KAYA, SEJAHTERA, BAHAGIA
Djati Sutomo, http://bisnissedjati.blogspot.com


Sejak gonjang-ganjing krisis moneter pada 1997, pensiun telah mengancam siapa saja, baik karyawan yunior, senior, buruh sampai direktur. Ancaman inilah membuat banyak karyawan yang tak pernah berfikir bisnis, tiba-tiba mulai memutar otaknya. Hari gini sudah jamak orang mulai menimbang peluang berbisnis menjelang pensiun.
Sayangnya, banyak yang tanpa persiapan matang terjun ke gelanggang bisnis. Dari ribuan korban PT QSAR atau berbagai bisnis bodong lainnya antara tahun 2000 s/d 2007, di antaranya adalah para pensiunan yang tergiur mendapatkan penghasilan tetap di atas bunga deposito. Yang lain kehilangan uang karena bermitra dengan pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, atau akibat sikap-sikap terlalu nekad, pede, dan menganggap remeh kesulitan berbisnis.
Walaupun tingkat kegagalan bisnis yang terjadi di kalangan pensiunan begitu tinggi , tetapi bisnis tetap menarik untuk dipertimbangkan. Saat ini (tahun 2008), kalau kita hanya mengandalkan pensiun dari perusahaan, atau membiarkan bank mengelola uang kita. Mungkin kita akan bersedih di masa tua. Kita menghadapi periode yang “aneh” dimana bunga yang ditawarkan oleh bank terlalu rendah untuk mengejar inflasi. “Uang-uang malas” kita yang ber-leha-leha di bank atau dana pensiun sangat tak bisa diandalkan pada saat pensiun nanti. Bayangkan harga emas pada awal 2007 baru Rp 200.000an, pada awal 2008an telah menembus Rp 300.000an per gramnya. Kenaikannya sebesar 30-35% % per tahun. Bandingkan dengan bunga deposito rupiah yang hanya berkisar 6% per tahun. . Jadi tampaknya kita harus mencari jalan untuk memacu uang agar lebih rajin bekerja!
Jalan yang menarik adalah bisnis. Tentu saja bukan bisnis ala para pemula muda yang masih mak nyus itu. Tetapi model binis yang dapat berjalan baik dan memberi rasa sejahtera dan bahagia. Seperti kisah ibu Sri Soelatiningsih dan suami, pasangan usia senja bercucu empat ini, masih giat mengembangkan bisnis kerajinan lukis dan mengikuti pameran-pameran dagang. Pasangan sepuh itu tampak berbahagia, Bu Sri membuat produk kerajinan, sang suami menorehkan lukisannya di atas produk-produk itu. Atau Pak Bardi, pensiunan perwira menengah Koramil Banjar berusia 62 tahun ini kini menikmati bisnis tambak udang galahnya yang sangat menguntungkan dan menjadi koordinator paguyuban petambak di desa Karya Mukti, Banjar.

Lima Kunci Sukses Bisnis
Walau kita telah memasuki senjakala kehidupan, tetapi business is business. Agar sukses berbisnis kita harus mengikuti semua kaidah bisnis. Maka secara teknis dan kelayakan, bisnis harus disiapkan dan diuji sehingga akhirnya bisnis dapat berjalan dengan baik.
Penulis menyarankan beberapa faktor kunci teknis bisnis yang harus dipertimbangkan oleh para pensiunan, yakni:
Potensi pasarnya harus baik, cek trafik yang lewat, tinjau usaha yang telah berjalan, lihat perilaku pelanggan.
Bahan baku dan teknologi produksi dapat diadakan dengan upaya yang wajar.
Tenaga terampil dan SDM dapat diadakan dari lingkungan sekitar.
Keuangan/Modal mencukupi, dapat disisihkan 25-30% dari tabungan pensiun.
Konsep usaha yang berbeda, beda dengan yang ada merupakan kunci sukses bisnis pemula.
Apabila kita mampu menguraikan faktor-faktor kunci di atas itu menjadi sebuah rencana usaha yang tertuliskan dalam 1 atau 2 lembar kertas, alangkah baiknya! Rencana bagaikan peta yang menuntun kita dalam perjalanan bisnis yang akan dilalui. Tentu saja ia bukan seperti peta geografis yang kaku, ia bersifat dinamis yang bisa disesuaikan dengan dinamika pasar dan bisnis.

Lima Kunci Sejahtera
Kesejahteraan merupakan konsep yang melampaui kekayaan. Meminjam konsep pak Tung Dasem, sejahtera tercapai jika kita dapat memenuhi gaya hidup normal kita tanpa bekerja secara aktif. Artinya tanpa menghabiskan waktu 8 sd 10 jam sehari secara full-time, kita dapat menghasilkan pendapatan yang layak. Saya tak ingin membicarakan tentang definisi berapa nilai uang yang layak diterima setiap bulannya, karena kebutuhan gaya hidup orang berbeda-beda, tetapi yang terpenting konsep ini penting bagi para senior yang seyogyanya sudah mulai mengurangi jam kerjanya karena pertimbangan usia atau yang lainnya. Jam kerja yang berkurang tetapi tetap mendapatkan penghasilan yang memadai merupakan intisari konsep sejahtera..
Beberapa kunci yang disarankan untuk mencapai kesejahteraan bagi para pensiunan adalah:
Manfaatkan aset yang dipunyai menjadi aset produktif bisnis semaksimal mungkin. Di antaranya adalah aset fisik misalnya tanah, bangunan, peralatan, atau stok bahan, aset intelektual & emosional, seperti pengetahuan, keterampilan, kebijaksanaan, kesabaran, ketelitian, aset sosial antara lain jaringan yang terkumpul selama ini baik dari pekerjaan maupun pergaulan, menjadi sumber untuk peningkatan pengetahuan maupun pemasaran.
Jadikan aset yang kita punyai memiliki nilai strategis dalam bisnis, sehingga posisi kita menjadi faktor kunci yang tak mudah digantikan oleh orang-orang operasional.
Jalankan suatu konsep bisnis yang sudah teruji secara menyeluruh atau sebagian, jangan memulai sebuah konsep yang bersifat coba-coba dan berisiko tinggi.
Kembangkan kader-kader operasional yang dapat mengurangi waktu keterlibatan operasional kita. Ingat kunci-kunci strategis tetap di tangan kita.
Berpeganglah pada strategi defensif dengan membangun benteng yang kokoh di sekitar aset kita untuk sewaktu-waktu menyerang secara selektif. Sebaiknya hindari strategi agresif total karena membutukan ketahanan mental dan sumber daya yang besar.
Lima Kunci Bahagia
Masa lewat paruh baya (untuk tidak mengatakan tua) seyogyanya dipenuhi dengan rasa bahagia. Bahagia yang timbul dari rasa menyayangi apa yang kita kerjakan dan melihat hasil kerja kita bermakna bagi sesama dan di mata Tuhan. Maka rasa bahagia seyogyanya muncul pula dari usaha bisnis. Setiap detik dalam menjalani proses bisnis haruslah kita nikmati. Sedangkan bonus berupa output bisnis entah itu produk/jasa serta keuntungan yang menyertainya harus memberi makna. Alangkah indahnya kita dapat menapaki senjakala usia dengan bahagia sejati yang dapat menutup riwayat hidup dengan akhir yang baik.
Kebahagiaan dalam bisnis ini dapat diupayakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pilihlah bidang bisnis yang paling cocok dengan sanubari yang paling dalam. Renungkan dalam-dalam, bersyukur kalau bidang itu merupakan keahlian kita selama ini karena tinggal diteruskan. Umumnya hobi yang selama ini dijalankan atau masih sebatas diangankan dapat menjadi bisnis yang cocok dengan sanubari kita.
2. Kuasai proses bisnis secara rinci dan mendalam. Karena penguasaan atas proses bisnis dapat menjadi kunci agar kita dapat menikmati setiap titik proses setiap detiknya.
3. Usahakan agar produk/jasa yang dibuat punya konteks kebermaknaan bagi masyarakat maupun Tuhan. Kalau buka warung usahakan agar ada misi yang baik, misalnya harga yang terjangkau sehingga bisa membantu guru dan anak-anak sekolah, atau produk-produk sehat tanpa bahan kimia berbahaya. Janganlah membuat produk yang menimbulkan konflik batin dengan sanubari kita.
4. Usahakan agar dari hasil bisnis ada yang kita sisihkan untuk zakat, derma atau sumbangan yang jumlahnya sesuai dengan keyakinan kita. Karena zakat adalah makanan spiritual yang bisa menciptakan kebahagiaan sejati.
5. Awalilah setiap kegiatan bisnis ini dengan niat yang baik dan tulus, sabar dan kuatkan mental dalam menjaga proses bisnisnya, dan selalu akhiri setiap kegiatan dengan rasa syukur karena Tuhan telah memberi yang terbaik.

2 Komentar:

Pada 23 Juli 2008 23.31 , Blogger Lies mengatakan...

Pak Djati Sutomo yang baik,

Maaf artikel ini yang juga ada sebagian di Majalah WK edisi Mei 2008 telah saya posting di milis the Profec (the Professional & Entrepreneur Club)yang kebetulan setiap Kamis membahas topik entrepreneur, semoga berkenan.

Salam epos,
Lies Sudianti
founder & moderator the Profec
08170707770
lies.sudianti@gmail.com
Milis: theprofec@yahoogroups.com

 
Pada 24 November 2008 04.48 , Blogger Bisnis seDjati mengatakan...

Dear Bu Lies,

Thx atas perhatiannya. Saya sangat appreciate atas upaya-upaya yang tak kenal lelah untuk menyebarkan gagasan-gagasan kemandirian.

Salam

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda